Sabtu, 10 November 2012

J Bruner


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kita ketahui bahwa pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan.

Dalam hal pendidikan, tentu tidak akan terlepas dari kata belajar, dimana belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisah dari semua kegiatan mereka dalam menunut ilmu dilembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mengajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah malam hari, sore hari atau pagi hari.
Dari dulu hingga sekarang para ahli psikologi dan pendidikan tidak bosan-bosannya membicarakan masalah belajar. Penelitian demi penilitian sudah pula dilakukan. Berbagai teori belajar sudah tercipta sebagai hasil dari penelitian. Dari beberapa teori yang terdcipta tersebut ada teori belajar penemuan yang dikembangkan oleh Jerome Bruner, diamana pada saat ini teori merupakan salah satu teori yang baik untuk dikembangkan di era globalisasi. Oleh karena itu dalam kesempatan akan di bahas secara mendalam mengenai teori tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Teori Pendekatan menurut Jerome S. Bruner?
2. Apa yang di maksud dengan pendekatan konsep menurut Jerome S. Bruner?
3. Bagaimana konsep belajar penemuan menurut Jerome S. Bruner?
4. Bagaimana aplikasi pendekatan konsep belajar penemuan menurut Jerome S. Bruner?
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui teori pendekatan menurut Jerome S. Bruner.
2.      Untuk mengetahui pendekatan konsep menurut Jerome S. Bruner.
3.      Untuk mengetahui konsep belajar penemuan menurut Jerome S. Bruner.
4.      Untuk mengetahui aplikasi pendekatan konsep belajar penemuan menurut Jerome S. Bruner.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jerome S. Bruner dan Teorinya
Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan  agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar, atau memperoleh pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.
Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu (1) prose perolehan informasi baru, (2) proses mentransformasikan informasi yang diterima  dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.Perolehan informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan lain-lain.Proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan.Informasi yang diterima dianalisis, diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan.

B.      Pendekatan Menurut Jerome S. Bruner
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
Pendekatan menurut bruner terhadap belajar, didasarkan pada dua asumsi (Rosser, 1984). Asumsi pertama ialah, bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan para penganut teori perilaku, bruner yakin, bahwa orang yang belajar interaksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi dilingkungan, tetapi dalam diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua ialah, bahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan dengan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya- suatu model alam (model of the world) menurut dia.

C.    Konsep Belajar Penemuan Menurut Jerome S. Bruner
Belajar merupakan aktifitas yang berproses, tentu didalamnya terjadi  perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Dalam konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner ada tiga episode/tahap yang ditempuh oleh siswa, yaitu: tahap informasi (tahap penerimaan materi), tahap transformasi (tahap pengubahan materi) dan tahap evaluasi (tahap penilaian materi). Dan konsep ini merupakan konsep belajar yang menentang konsep belajar aliran behavioristik.
Nasution menjelaskan bahwa ketiga tahapan konsep penemuan Jerome Bruner tersebut saling berkaitan.
1.       Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tiap pelajaran kita proleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya , misalnya tidak ada energy yang lenyap.
2.      Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Informasi itu harus dianalisis , diubah atau ditransformasi kebentuk yang lebih abstrakatau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.


3.      Tahap evaluasi (tahap penilaian materi)
Kemudian dinilai hingga manakah pengetahuan yang diproleh  dan ditransformasikan itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.

Dalam proses belajar ketiga tahapan ini selalu terdapat. Yang menjadi masalah ialah berapa banyak informasi diperlukan agar dapat ditransformasi. Lama tiap tahapan tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga tergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan sendiri. Konsep ini juga menjelaskan bahwa prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan dikelas. Pengalaman yang diberikan dalam pembelajaran harus bersifat penemuan yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh informasi dan keterampilan baru dari pelajaran sebelumya.
Oleh karena itu, konsep pembelajaran ini secara sadar mengembangkan proses belajar siswa yang mengarah kepada aspek jiwa dan aspek raga. Sesuai dengan pengertian belajar itu sendiri yaitu serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan linkungannya yang menyangkut kognitif, efektif, dan psikomotorik.
v  Peran Guru
Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan adalah:
1.  Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.
3. Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif adalah melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan (learning by doing). Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa.
4. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi hendaknya memberikan saran-saran bila diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru hendaknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
5. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis besar belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri konsep-konsep itu. Di lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang konsep dasar, dan kemampuan untuk menerapkan konsep itu ke dalam situsi baru dan situasi kehidupan nyata sehari-hari pada siswa.
Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru.
D.    Aplikasi Pendekatan Konsep Belajar Penemuan Menurut Jerome S. Bruner
Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, maka terlebih dahulu kita harus mengacu pada:
SK                     : Memahami sifat-sifat larutan Asam-Basa dan penerapannya.
KD                    : Mendeskripsikan teori-teori Asam-Basa dengan menentukan sifat larutan.
Indikator         :  -    Menjelaskan teori Asam-Basa
-          Menentukan sifat larutan Asam-Basa
-          Aplikasi konsep Asam-Basa dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan             : Setelah mengikuti pelajaran ini, siswa diharapkan mampu:
-          Menjelaskan sifat-sifat larutan Asam-Basa.
-          Mengaplikasikan konsep Asam-Basa dalam kehidupan sehari-hari

1.      Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
Aplikasi :
Sebelum KBM dimuali, seorang guru terlebih dahulu mempersiapkan   permasalahan Asam-Basa yang akan dipecahkan oleh siswa.
2.      Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.
Aplikasi :
Guru memberikan permasalahan tentang maagh yang berkaitan dengan asam lambung. Kemudian guru mencontohkan seorang yang meminum obat sakit maagh sehingga sakitnya reda. Dari permasalahan itu murid dirangsang untuk menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi. Para siswa menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis-hipotesis dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang mendasari masalah itu.
3.      Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik
Aplikasi :
Guru menjelaskan permasalahan dengan cara ikonik melalui gambar-gambar yang mewakili permasalahan dari konsep asam basa tersebut.
4.      Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor.
Aplikasi:
Ketika siswa mencoba memecahkan masalah secara teoritis guru bertindak sebagai tutor yang memberikan arahan kepada siswa agar mendapatkan kesimpulan pemecahan masalah yang benar sesuai dengan reori penunjang yang ada. Guru juga memberikan umpan balik pada waktu yang tepat guna menunjang siswa dalam mendapat pemecahan masalahnya.
5.      Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.
Aplikasi :
Siswa dalam pemecahan masalah memiliki persepsi yang berbeda – beda. Guru meluruskan persepsi siswa yang berbeda – beda itu sehingga tidak menimbulkan miss konsepsi dalam pemecahan masalahnya. Gambar yang digunakan untuk menerangkan masalah tadi juga dapat dijadikan sebagai bahan penjelasan bagi guru kepada siswa agar penjelasan konsepsi dapat di perjelas.



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari penjelasa makalah diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal :
1.      Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep
2.      Menurut J.Burner pendekatan konsep dapat bibagi menurut dua aspek. Aspek pertama yaitu pengetahuan didapat melalui interaksi antara linbgkungan dengan individu. Dan yang ke dua pengetahuan didapat dari rekonstruksi pengetahuanbya dengan apa yang ada di alam.
3.      Dalam konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner ada tiga episode/tahap yang ditempuh oleh siswa, yaitu: tahap informasi (tahap penerimaan materi), tahap transformasi (tahap pengubahan materi) dan tahap evaluasi (tahap penilaian materi).  
4.      Pendekatan konsep ini dapat diaplikasikan dalam konsep asam basa yaitu dalam aplikasinya menjelaskan proses netralisasi yang terjadi pada penyembuhan magh dari asam lambung berlebih






DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan  Micro Teaching, Ciputat, Quantum Teaching, 2005.
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rienika Cipta, 2005.
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasi, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2008.
Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2005.
http://arifwidiyatmoko.wordpress.com/2008/07/29/%E2%80%9Djerome-bruner-belajar-penemuan%E2%80%9D/
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006.
Nasution, Berbagai pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2006.
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2006.
Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2001.
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2008
                                       dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar